Cuaca Ekstrem, Operasi Modifikasi Cuaca di Jatim Diperpanjang hingga Akhir Januari 2026
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026. Rencana awal, OMC hanya sampai akhir Desember 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Subroto saat dikonfirmasi Selasa (6/1/2026) mengatakan, Kebijakan perpanjangan sesuai arahan Gubernur Jatim, karena potensi cuaca ekstrem seperti yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terjadi hingga Februari 2026.
Dalam rilis BMKG, diperkirakan potensi curah hujan pada Januari akan mencapai sekitar 58 persen dan pada Februari diprediksi mencapai 22 persen.
Sejak 1 Januari 2026, OMC dilaksanakan sebanyak 7 kali dengan sasaran wilayah di Selatan Jatim, Selatan Pulau Madura dan beberapa titik di wilayah barat Jatim.
Sepanjang Desember 2025 lalu, OMC dilakukan sebanyak 50 kali dengan sasaran di berbagai wilayah udara Jatim.
OMC dilakukan dengan menyemaikan bahan semai berupa garam (NaCI) ke udara dengan pesawat Cessna Grand Carava 208B PK-DPI milik TNI Angkatan Laut.
Penyemaian material TMC bertujuan untuk mengalihkan potensi awan hujan.
Data BPBD Jatim, kejadian bencana sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 531 kejadian.
Dari jumlah itu, mayoritas didominasi kejadian bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir (149 kejadian), angin kencang (147 kejadian) hingga tanah longsor (21 kejadian).
Puncak musim hujan
Dalam keterangan resmi pada Senin (5/1/2026), BMKG memprediksi sebagian besar wilayah kabupaten dan kota di Jawa Timur memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026.
Prakirawan BMKG Juanda Restina Wardhani, menjelaskan bahwa terdapat beberapa wilayah di Jawa Timur yang baru akan memasuki puncak musim hujan pada bulan Februari 2026 mendatang.
Wilayah Situbondo dan Bojonegoro diprakirakan puncak musim hujan di bulan Februari. BMKG mengimbau kepada segenap masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem pada puncak musim hujan saat ini.
Pada 1-10 Januari 2026, diprediksi terdapat monsun asia serta gangguan gelombang atmosfer Low Frequency dan MJO (Madden Julian Oscillation) yang melintasi wilayah Jawa Timur sehingga turut memicu potensi cuaca ekstrem.
Suhu muka laut perairan Selat Madura yang terpantau masih cukup signifikan dan kondisi atmosfer lokal yang labil juga turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif.
Faktor tersebut dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang bisa disertai petir maupun angin kencang.
Demikian kami informasikan terima kasih.
Sumber: kompas.com, BMKG

Komentar
Posting Komentar