El Nino Menguat, BMKG: Hampir Seluruh Jatim Rawan Kekeringan
Selasa, 11 Agustus 2026 TIM CMC PKSS Menginformasikan:
El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027 dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur, terutama selama musim kemarau 2026.
Prakirawan BMKG Karangploso Malang, Linda Fitrotul, mengatakan kondisi El Nino saat ini menunjukkan penguatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski diprediksi berlangsung hingga awal 2027, dampak El Nino yang signifikan terhadap Indonesia diperkirakan terjadi selama musim kemarau 2026.
El Nino dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan ketersediaan air dan membuat lahan menjadi semakin kering.
Menurut data BMKG Karangploso, hampir seluruh wilayah Jawa Timur perlu mewaspadai ancaman kekeringan selama periode kemarau.
Sejumlah daerah yang perlu mendapat perhatian antara lain Bangkalan, Kota Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Jember, Lamongan, Madiun, Magetan, Kota Malang, Kabupaten Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
Kondisi tersebut terutama perlu menjadi perhatian masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, maupun aktivitas lainnya.
BMKG mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air dengan menggunakan air secara bijak dan tidak melakukan pemborosan.
Selain berdampak pada ketersediaan air, kondisi kemarau yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti rumput, ilalang, daun kering, dan ranting, dapat menjadi semakin kering sehingga api lebih mudah menyala dan menyebar.
Berdasarkan peta tingkat kemudahan terjadinya kebakaran atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) BMKG per 10 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Jawa Timur berada pada kategori sangat tinggi.
Kategori tersebut menunjukkan bahan bakar ringan di permukaan tanah berada dalam kondisi kering dan mudah terbakar.
Namun, kondisi FFMC yang tinggi bukan berarti wilayah tersebut sedang mengalami kebakaran.
Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati karena sumber api kecil dapat memicu kebakaran ketika lingkungan dalam kondisi sangat kering.
Untuk mengurangi risiko karhutla, BMKG mengimbau masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama di kawasan hutan, lahan terbuka, perkebunan, dan wilayah dengan vegetasi kering.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak membakar sampah atau membersihkan lahan dengan cara dibakar.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munvulnya api, terutama di kawasan hutan, lahan terbuka, perkebunan, dan area yang dipenuhi vegetasi kering," ujarnya.
Demikian kami informasikan, terima kasih.
Sumber: Kompas/BMKG
Komentar
Posting Komentar