Lawan Arus Tetap Marak, Ancaman Nyata di Jalanan Ibu Kota
Jum'at, 10 Juli 2026 TIM CMC PKSS Menginformasikan:
Perilaku berkendara melawan arus masih menjadi momok menakutkan bagi pengguna jalan di Jakarta. Meski penertiban oleh aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan terus digencarkan, praktik berbahaya ini seolah tak kunjung usai dan terus mengancam keselamatan sesama pengguna jalan, termasuk pejalan kaki.
Di sejumlah titik rawan seperti kawasan Kampung Melayu, Kalibata, hingga Cawang, fenomena pengendara sepeda motor yang nekat mengambil jalur berlawanan masih kerap ditemui setiap harinya. Kondisi serupa bahkan ditemukan di berbagai pelosok daerah, menunjukkan bahwa pelanggaran ini telah menjadi persoalan sistemik.
Keresahan Warga atas Ancaman di Jalan
Kehadiran pengendara yang melawan arus secara tiba-tiba sering kali mengejutkan pengendara lain yang sudah melaju di jalur yang benar. Bagi pejalan kaki, kondisi ini menciptakan rasa was-was yang konstan saat harus menyeberang jalan.
Rudi, salah seorang pejalan kaki, mengungkapkan rasa cemasnya saat ditemui di sela aktivitasnya, Jumat (10/7/2026). Ia mengaku bahwa kewaspadaan standar sering kali tidak cukup untuk menghindari pengendara yang melanggar aturan.
"Kadang saya sudah lihat kanan-kiri sesuai arah kendaraan, tiba-tiba ada motor datang dari arah yang tidak semestinya. Sangat berbahaya, apalagi untuk anak-anak dan orang tua," ujar Rudi.
Menurutnya, alasan sebagian pengendara melakukan tindakan ini hanyalah demi efisiensi waktu semata—ingin menghindari putaran jalan yang dianggap terlalu jauh. Padahal, keputusan sepele tersebut justru menyimpan risiko kecelakaan fatal bagi diri sendiri dan orang lain.
Budaya "Ikut-ikutan" yang Membahayakan
Pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan sebenarnya telah melakukan berbagai upaya preventif. Berbagai fasilitas pendukung keselamatan telah terpasang, mulai dari water barrier, traffic cone, pagar pembatas, hingga rambu larangan yang jelas. Petugas pun rutin melakukan pengaturan di lapangan.
Namun, pelanggaran kerap terjadi karena adanya mentalitas "ikut-ikutan". Ketika satu pengendara nekat melawan arus, pengendara lain sering kali mengekor, sehingga perilaku yang salah ini lama-kelamaan dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Keselamatan adalah Tanggung Jawab Bersama
Pakar transportasi menekankan bahwa sistem lalu lintas dirancang agar setiap pengguna jalan dapat memprediksi arah datangnya kendaraan. Ketika ada kendaraan yang muncul dari arah berlawanan, waktu reaksi pengendara lain menjadi sangat sempit, yang secara otomatis meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan.
Keselamatan di jalan raya tidak hanya bergantung pada kelengkapan infrastruktur atau kehadiran petugas di lapangan. Pada akhirnya, semua kembali pada kesadaran individu. Melawan arus bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan bentuk pengabaian terhadap hak pengguna jalan lain untuk berkendara dengan aman dan nyaman.
Membangun budaya tertib berlalu lintas menjadi kunci utama agar jalan raya kembali menjadi ruang bersama yang aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Demikian kami informasikan, terima kasih
Sumber: RM.id
Komentar
Posting Komentar