Asap Karhutla Kalimantan Masuk Malaysia, Sekolah Tutup 2 Hari
Jumat, 21 Agustus 2026 TIM CMC PKSS Menginformasikan:
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai berdampak hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut ditandai dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah. Pemerintah Malaysia sampai harus menutup sementara sekolah di beberapa wilayah.
Departemen Pendidikan Sarawak memerintahkan sekolah-sekolah di wilayah Kuching, Padawan, Serian, Samarahan, Bau, Lundu, Sri Aman, dan Lubok Antu ditutup sementara selama dua hari yakni mulai 20 hingga 21 Agustus 2026.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan udara tidak sehat akibat asap dari karhutla di Kalimantan. Seperti diketahui, Indonesia dan Malaysia berbatasan darat di Pulau Kalimantan.
Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara berbatasan dengan Sarawak dan Sabah, Malaysia.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat telah melintasi batas negara dan berdampak signifikan terhadap kualitas udara di Sarawak, Malaysia.
Berikut adalah rangkuman situasi terkini terkait dampak lintas batas tersebut:
Penutupan Sekolah: Pemerintah negara bagian Sarawak melalui Departemen Pendidikan setempat memberlakukan kebijakan penutupan sekolah selama dua hari di beberapa distrik terdampak (termasuk wilayah Kuching, Serian, Samarahan, Sri Aman, dan Sarikei) demi melindungi kesehatan siswa dari paparan udara tidak sehat.
Sistem Pembelajaran: Selama masa penutupan tersebut, kegiatan belajar mengajar dialihkan secara daring melalui metode Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR) agar proses pendidikan tetap berjalan.
Kualitas Udara (API): Berdasarkan Sistem Manajemen Indeks Polutan Udara Malaysia, beberapa wilayah mencatatkan angka Indeks Polutannya (API) masuk dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat (berkisar antara 150 hingga di atas 200 di beberapa titik seperti Serian dan Kuching).
Faktor Penyebab: Angin barat laut turut memicu pergerakan asap lintas batas menyusul tingginya sebaran titik panas (hotspots) yang terpantau di wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Barat. Otoritas di kedua negara terus meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan titik api guna memitigasi dampak lanjutan dari kabut asap ini.
Demikian kami informasikan, terima kasih
Sumber: Media Siber/CMC
Komentar
Posting Komentar