Kebakaran Hutan dan Lahan di TNWK Lampung Timur Belum Padam Meski Water Bombing Dikerahkan Tiga Hari
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Meskipun helikopter water bombing telah dikerahkan selama tiga hari untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat, api masih bertahan di sejumlah titik.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, Aswarodi, mengungkapkan bahwa operasi water bombing telah dimulai sejak 25 September 2026. Hingga Minggu (27/9/2026), helikopter tercatat telah melakukan lima sortie penerbangan.
Dalam setiap penerbangan, helikopter membawa sekitar 4.000 liter air untuk disiramkan langsung ke lokasi kebakaran dengan durasi rata-rata mencapai empat jam per sortie.
Tantangan Karakteristik Lahan Gambut
Berdasarkan pemetaan tim gabungan, luas area kebakaran di Resort Cabang TNWK diperkirakan mencapai sekitar 13 hektare. Namun, upaya pemadaman dari udara menemui sejumlah kendala di lapangan.
Aswarodi menjelaskan bahwa proses penyiraman water bombing baru menjangkau sebagian kecil area. Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama karena api dapat terus membara di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya telah disiram.
"Arealnya ini kisarannya sekitar 13 hektare. Yang di-water bombing disiram tiga hektar, jadi tinggal 10. Tapi karena lokasi kebakaran ini lahannya gambut, sudah kita intervensi belum tentu dia padam total," ujar Aswarodi, Minggu (27/9/2026).
Tim gabungan harus memastikan bahwa titik-titik yang telah disiram benar-benar dingin agar bara api tidak kembali membesar dan merambat ke vegetasi di sekitarnya.
Kendala Pergerakan Titik Api
Untuk memaksimalkan efektivitas operasi udara, tim di lapangan diminta untuk terus memperbarui koordinat titik api serta lokasi sumber air secara berkala sebelum helikopter diterbangkan.
Perubahan kondisi cuaca dan arah angin membuat titik api di kawasan hutan dapat bergeser atau meluas dengan cepat dalam hitungan jam, sehingga akurasi data pemetaan sangat krusial.
"Kalau jarak data, misalnya motret dari udara, ngukurnya jarak empat jam saja, itu sudah bergeser apinya. Sudah melebar," tambahnya.
Karhutla di Resort Cabang TNWK ini pertama kali terdeteksi pada 18 September 2026. Hingga kini, upaya penanggulangan terus digencarkan secara intensif oleh tim gabungan melalui kombinasi penanganan darat dan udara demi menghentikan meluasnya area kebakaran.
Demikian kami informasikan, terima kasih.
Sumber: Detiksumbagsel.com
Komentar
Posting Komentar